The Voice – Acara Ajang Musik Teraneh yang Pernah Ada

Sudah pada tau acara “the voice” kan?

Ya ajang bernyanyi yang jurinya hanya mendengar suara dari para kontestan.

Kalau suka dengan suara si kontestan, tinggal pencet tombol dan kursi juri berbalik.

Tidak seperti idol, yang mana sering terjadi penyisihan fisik di sana.

Yang ganteng/cantik walaupun suaranya pas-pasan bisa lolos. Tidak jarang belum juga nyanyi. Jurinya langsung setujuuuuu indeed.

Yang “fisiknya” jelek (mungkin suaranya masih jauh lebih bagus daripada yg cantik/ganteng dgn suara pas-pasan), “no no saya nooo saya tidak setuju kamu tidak cocok jadi penyanyi” celoteh para juri.

Begitulah fakta di idol.

Maka dari itu, muncullah inovasi the voice yang kompetisinya bersiratkan “kami hanya menilai suara kontestan”. Dengan objektif. Ya objektif.

Tapi apa kalian pernah perhatikan seandainya si juri ‘yang dianggap’ tolol duluan menekan tombol kursinya, 2 atau 3 juri lain cenderung tidak membalikkan kursinya…?

Apa itu disebut objektif? Dimana objektifnya?

Seperti itulah contoh kecil dari kehidupan yang begitu luas ini.

Kita selalu ‘langsung’ menilai orang-orang cuma berdasarkan apa–yang–mata–kita–lihat.

Garis besarnya jika melihat tampang orang tidak rupawan, maka semua yang ada padanya kita anggap negatif busuk no-talented bodoh idiot pemalas jahat unfriendly etc.

Mungkin sebagian besar masih bisa menyimpan ‘rasis’-nya hanya di dalam hati saja.

You know and must be like that.

Setiap orang pasti berpikiran rasis.

Tergantung apakah dia mengucapkannya atau tidak.

Maka dari itu….

-“Satu-satunya hal yang objektif di dunia ini adalah ke-subjektif-an objek itu sendiri.”-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *