Minuman Legendaris! Bagai Babi Tanpa Badak

Horas Mejuah-juah!
Makan di sini aja…Pesan BPK-nya 3 kilo ya Namboru! Minumnya Badak.

Perlu dipertanyakan ke-MEDAN-an nya kalau gak kenal dengan minuman legendaris yang satu ini.
Apalagi bagi yang suka makan BPK (Babi Panggang Karo). Berdasarkan survey sampel Rumah Makan Tesalonika, dari 90% yang makan di situ, pesan minumnya badak. Maka sudah layak dan seharusnya dibuat pepatah baru perpanjangan dari bagai sayur tanpa garam, Bagai Babi Tanpa Badak.

Untuk yang tidak makan BPK, jangan langsung setimen juga dengan minuman orang Sumatera Utara ini. Karena namanya juga badak bukan babi, berarti bukan dibuat dari babi. Dan bukan juga dari daging badak kok. Minuman ya minuman. Dibuatnya minuman ya dari racikan air dan gula, soda, pewarna.

Hanya saja rumah-rumah makan yang menyajikan babi sebagai menu hidangannya, seperti rumah makan khas batak toba atau karo dan juga rumah makan tionghoa, menjadikan badak sebagai stok minuman botol prioritas mereka. Sedikit terkesan lebay, saya sendiri kalau gak ada badak di Rumah Makan BPK, lebih baik saya tidak jadi makan. Seperti ada yang kurang kalau tidak minum badak.

badak minuman soda pertama di indonesia

Minuman yang satu ini memang sangat fenomenal dan terkenal di wilayahnya Sumatera Utara. Dan ternyata minuman ini disinyalir sebagai minuman soda pelopor sangat legendaris di Indonesia, banyak juga nilai-nilai sejarah yang terkandung di dalamnya.

Nilai Sejarah dari Minuman Badak

Karena begitu favoritnya minuman ini bagi saya dan sebagian besar teman-teman lainnya, saya menjadi tertarik untuk membahas kisah cerita dari minuman soda legendaris ini.

Sempat kepikiran kalau ada yang ngomongnya mendok, maksudnya saudara saudara tapi bilangnya “sotara sotara”. Berarti kalau mau memesan badak, bilangnya “aku pesan batak”. Batak dan badak. Cuma beda di huruf d dan t saja. Tapi tidak juga, tidak dikatakan kalau nama badak berasal dari plesetan pelafalan batak itu sendiri.

Menurut informasi dari Elman Tanjung (89), sang pencipta minuman soda merek badak Heinrich Surbeck (pria kelahiran Swiss) merupakan seorang sarjana teknik kimia yang juga dikenal sebagai pencinta alam. Ia memiliki banyak koleksi tumbuhan dan hewan kering. Mungkin ini alasan yang paling tepat mengapa namanya badak.

minuman soda badak

Tahun 1916, berdirinya pabrik produksi minuman soda bermerek badak. Nama pabriknya NV Ijs Fabriek Siantar dan didirikan di kota Siantar – Sumatera Utara. Alasan pabrik soda badak ini berdiri di Siantar karena pada saat itu kota Siantar ini merupakan tempat berkumpulnya juga persinggahan orang-orang kaya berdompet tebal mulai dari pengusaha-pengusaha kaya juga pejabat-pejabat perkebunan.

Paling Legendaris. Dilihat dari tahun berdiri pabriknya, ternyata dapat disimpulkan kalau minuman Badak ini lah minuman soda yang paling senior dan tertua di Indonesia. Cocacola saja diperkenalkan pada tahun 1927, dan masuk Indonesia baru pada tahun 1932. Badak sudah lama bahkan sudah dikenal jauh sebelum minuman berkelas internasional Cocacola.

Marquisa Sap. Tidak hanya memproduksi minuman badak, pabrik Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar juga mengelola pembangkit listrik dan hotel beserta sejumlah produk minuman bersoda lainnya. Seperti sari buah markisa yang sudah diekspor sampai ke sejumlah negara Eropa seperti Swiss, Belanda, dan Belgia. Mereknya Marquisa Sap.

Tragis. Saat baru merdekanya Indonesia, pendiri pabrik minuman badak Heinrich Surbeck dibunuh oleh rakyat yang memberontak melawan Belanda. Kejadiannya tidak lama setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan. Dua anaknya selamat karena berhasil diungsikan ke Eropa.

Badak tidak berakhir. Sepeninggal pendirinya, perusahaan pabrikan badak ini tetap berdiri dan terus beroperasi. Pegawai-pegawai produk minuman badak terus berusaha agar Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar tetap melanjutkan produksi dan terus menjual minuman badak. Selama setahun lebih mereka bekerja sama tanpa adanya direktur pengganti.

Tahun 1947, Lydia Rosa (anak dari Surbeck) kembali ke Siantar, dan menikahi Otto-seorang pria asal Belanda yang juga tinggal di Siantar. Otto diangkat sebagai direktur pengganti dari Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar.

Tahun 1959, Otto tidak lagi menjadi direktur Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar. Alasannya karena ketika itu terjadi Isu Nasionalisasi Aset yang berada di wilayah Indonesia, sehingga semua pabrik asing yang berada di negara Indonesia harus segera dijual/dialihkan kepada penduduk lokal. Daripada menanggung risiko, Otto langsung mengubah dan mengatasnamakan kepemilikan pabrik menggunakan nama Elman Tanjung-pegawai setianya yang sudah ikut memproduksi produk badak sejak tahun 1938.

Tahun 1963 Otto dan istrinya pindah ke Swiss. Karena berencana tidak kembali lagi ke Indonesia, Otto pun menyerahkan penuh kepemilikan pabriknya kepada Elman Tanjung. Terhitung mulai tahun 1963 selama beberapa tahun Elman lah sebagai direktur yang mempimpin pabrik produk minuman lokal legendaris ini.

Tahun 1969-1971 Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar dibeli dengan dicicil oleh Julianus Hutabarat-seorang pengusaha Barat Trading Company. Setelah cicilan lunas pada tahun 1971 Pabrik NV Ijs Fabriek Siantar pun diganti nama menjadi PT Pabrik Es Siantar. Namun, Elman Tanjung masih dipercaya untuk mengelola pabrik minuman badak hingga tahun 1987.

minuman-soda-badak-terkenal-laris

Kesuksesan minuman soda badak bisa dilihat dari sangat laris dan diminatinya produk minuman soda ini dijual di pasaran. Tidak hanya di sekitar Sumatera Utara, masyarakat di Pulau Jawa pun telah mengenal minuman legendaris yang satu ini. Tidak tanggung hingga 35ribuan kerat laku dijual setiap bulannya di masa-masa kejayaannya dahulu. Sekarang Hendry Hutabarat dan Ronald Hutabarat (anak dari Julius Hutabarat) yang melanjutkan pengelolaan minuman paling senior ini.

Pengalaman Minum Badak

Ada beberapa alasan tersendiri yang membuat mengapa saya lebih memilih minuman Badak ini setelah makan babi panggang karo. Padahal ada banyak minuman soda lainnya dengan merek-merek ternama internasional yang sudah pasti terjamin kualitasnya di seluruh dunia.

pengalaman minum badak

Memang ini hanyalah pendapat/opini pribadi berdasarkan pengalaman langsung, bisa saja tidak objektif dan terkesan mengarang-mengarang bagi pembaca. Tapi disini saya menyampaikannya secara jujur dan terbuka mengenai pengalaman karena meminum BADAK.

Menurut saya, badak ini sangat pas takaran sodanya, tidak kurang tidak lebih. Beda kalau minum Teh Botol Sosro yang tidak ada sodanya, atau minum Sprite Fanta CocaCola kebanyakan sodanya jadi bikin enek.

Habis makan babi jadi seperti babi kekenyangan, biasanya bawaannya malas gerak dan membuat ngantuk-ngantuk. Tapi tidak tahu kenapa kalau sudah minum badak perut yang sudah penuh menjadi terasa longgar kembali dan yang awalnya ngantuk menjadi melek lagi. Dan jadi pengen makan lagi.

INFORMASI PEMESANAN

pt pabrik es siantar
Untuk para penjual makanan khas batak/karo /tionghoa dan distributor yang berada di wilayah Medan dan sekitarnya, yang ingin melakukan pemesanan minuman BADAK produksi PT Pabrik Es Siantar ini dengan harga beli termurah bisa langsung menghubungi PT PES (Pabrik Es Siantar) melalui fanpage mereka di Facebook.

One thought on “Minuman Legendaris! Bagai Babi Tanpa Badak

  1. Lancar Haposan Pasaribu Reply

    Untuk pemesanan :
    HUBUNGI LH.PASARIBU
    HP/WA :08126517004

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *